Sewaktu harga bahan bakar kendaraan bermotor naik, rakyat Indonesia begitu terpukul dan seolah perekonomian menjadi agak seret sementara waktu. Apakah ini artinya bahwa subsidi bensin untuk Indonesia harus ditingkatkan? Menurut saya hal ini bukanlah solusi yang bijak karena itu sangat membodohi.
Yang saya heran waktu itu, mengapa hanya negara-negara seperti kita yang seolah begitu terpukul dengan adanya kenaikan harga bahan bakar ini; sedangkan negara lain yang lebih maju, masyarakatnya seolah tidak banyak terpengaruh oleh kondisi tersebut – hanya sebagian saja dari mereka yang terkena dampak secara langsung. Lalu bila kita tilik kembali dengan seksama, terlihatlah sebuah petunjuk yang membedakan kita dan mereka. Negara yang terkena dampak secara langsung adalah negara yang masyarakatnya secara mayoritas memiliki kendaraan pribadi, karena kendaraan pribadi kita memerlukan bahan bakar setiap hari. Jadi bila kita berfikir bahwa sudsidi bensin akan kembali memecahkan masalah, maka saya kira hal itu adalah sebuah kesalahan yang cukup fatal. Dari titik ini sebaiknya kita, masyarakat Indonesia memahami bahwa kendaraan pribadilah sumber utama permasalahan kita. Sebuah akar permasalahan yang telah lama membawa masyakat Indonesia menjadi tergantung penuh dengan bahan bakar kendaraan bermotor.
Jadi bila kita ingin memberi solusi yang permanen terhadap masalah ini, tentulah kita harus mencabut permasalahan dari akarnya. Apakah solusi penghematan bahan bakar belum tepat? Memang penghematan bahan bakar merupakan solusi yang lebih baik daripada subsidi, tetapi bukan tepat. Sekalipun penghematan mendidik tetapi saya kira solusi ini tidak permanen, karena belum mampu menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya. Bila kita tidak memiliki kendaraan pribadi, maka kita tidak akan tergantung oleh bahan bakar, itu point-nya. Lantas mungkinkah masyarakat Indonesia tidak memiliki kendaraan pribadi? Lha wong transportasi umum saja lebih ‘mahal’ ongkosnya dan tidak disetiap daerah ada, kalaupun ada transportasi tersebut tidak memilik rute yang sesuai dengan harapan masyarakat – meskipun bagi sebagian orang rutenya sudah cukup baik.
Saya kira adalah lebih baik bila pemerintah kita mulai membangun transportasi umum yang luas, menjangkau seluruh wilayah Indonesia dan tentu saja ongkos yang terjangkau. Apakah selama ini belum ada transportasi? Tentu jawaban adalah sudah! Tetapi bila kita bertanya, apakah sudah meluas dan menjangkau seluruh wilayah Indonesia, sampai ke pelosok-pelosok? Maka jawabannya adalah belum! Busway dan Trans Jogja adalah langkah awal yang baik dari pemerintah, masyarakat pun segera menyambutnya dengan hangat. Sayangnya kedua transportasi ini hanya dibangun di kota-kota besar, sedangkan di desa-desa maupun daerah pelosok sangat tidak terjangkau; sekalipun ongkosnya sudah murah.
Dengan adanya kendaraan pribadi bukan hanya bahan bakar yang menjadi permasalahan kita tetapi jalanan pun menjadi rawan macet karena saking banyaknya kendaraan pribadi. Saya sangat berharap bahwa permasalahan seperti ini segera dipikirkan oleh yang berwenang dan dipecahkan, karena transportasi adalah masalah umum dan menyentuh masyarakat luas secara langsung. Maju terus Indonesia-ku!




















1 comments:
semoga menjadi kenyataan...
sehingga indonesia menjadi negara yang bersih, disiplin, teratur dan lancar lalu lintas..
Post a Comment